Artikel Pendidikan
Mempersiapkan Anak Masuk Pesantren (Boarding School)
Oleh AdminSenin, 04 Maret 2019 11:54 WIB | Dibaca 456 kali
Mempersiapkan Anak Masuk Pesantren (Boarding School)
Mempersiapkan anak masuk pesantren

bun, aku masuk SMP biasa aja yaa Abang tiba-tiba memulai percakapan yang ngga pernah saya duga. Dengan tenang saya bertanya, kenapa memangnya? Abang tersenyum dan mengutarakan alasan kenapa dia maunya sekolah di sekolah umum aja, bukan boarding school a.k.a pesantren. 
Sejak abang kelas 3 SD, saya dan suami sudah mengkondisikannya untuk siap masuk pesantren. Saya gambarkan dan ceritakan bagaimana kehidupan di pesantren nanti. Ngga menakuti-nakuti apalagi sampai mengancam. Saya menghindari mengatakan yang ngga enak soal pesantren. Karena saya tahu itu malah akan membuat anak jadi ngga tertarik dan merasa dibuang.

Soal pilihan melanjutkan sekolah ke boarding school bukan perkara mudah. Saya sering nangis kalau ingat nanti bakal berjauhan sama anak. Bagaimana kehidupan mereka nantinya tanpa saya, bagiamana mereka urus diri mereka, makan, nyuci baju, dan banyak hal yang saya pikir ngga bisa mereka kerjakan sendiri. Apalagi anak laki-laki yang cenderung cuek. Ah, bisa ngga yaa saya mengikhlaskan abang dan kakak buat mondok? 

Abang sekarang sudah kelas 5, hanya tersisa 1 tahun lagi buat mempersiapkannya supaya siap masuk pesantren. 1 tahun itu sebentar banget. Tapi karena sudah dikondisikan sejak dia kelas 3, saya berharap mindsetnya sudah terbentuk. Walau akhir-akhir ini dia lagi suka bercanda untuk masuk sekolah umum saja daripada pesantren. 

Sudah ada beberapa pilihan pesantren yang saya dan suami pilih. Insya Allah, awal tahun ini kami akan ajak abang untuk lihat-lihat. Bagaimana pun nantinya abang yang bakal menjalani proses belajar di pesantren, bukan orangtuanya. Makanya, penting banget untuk membiarkan dia melihat dulu. Membiarkan dia membangun feel dengan calon sekolahnya nanti. Dengan begitu, ketika sudah waktunya dia masuk pesantren, dia bisa dengan mudah menyatu. 

Memasukkan anak ke pesantren pasti ada pro kontranya di dunia per-orangtua-an. Ada orangtua yang menganggap dengan memasukkan anak ke pesantren itu artinya membuang anak, ngga sayang, dan lain sebagainya. Tapi, ngga sedikit juga yang sepemahaman kalau pesantren adalah tempat yang tepat untuk menghindari fitnah dunia yang makin naudzubillah. Kelompok orangtua yang paham inilah yang jadi penyemangat saya dan suami. Mantap memilih pesantren sebagai jenjang pendidikan anak-anak setelah Sekolah Dasar.

Walau belum benar-benar menjadi orangtua dari seorang santri, saya mau berbagi tips mempersiapkan anak masuk pesantren. Buat para orangtua yang ingin memasukan anaknya ke pesantren, semoga bisa membantu. Setidaknya, kita bisa saling support yaa. 

Bicara Pada Anak 

Karena yang akan berada di pesantren adalah anak, jadi penting banget untuk bicara dengan mereka. Bicaralah dari hati ke hati dan dalam kondisi yang santai. Jelaskan maksud dan tujuan kita memilih pesantren untuk jenjang sekolah mereka selanjutnya.

Bicara dengan suasana yang nyaman. Gunakan juga bahasa yang mudah dimengerti oleh anak. Penting juga untuk menjelaskan tentang lingkungan pesantren secara umum. Tujuannya, supaya anak punya gambaran dan ngga kaget ketika benar-benar masuk ke pesantren.

Ajak Anak Memilih Pesantrennya

Pada akhirnya, anaklah yang nanti bakal menjalani proses belajar di pesantren. Jadi, serahkan pilihan pesantren pada anak. Kita, sebatas merekomendasikan saja. Ngga masalah sih kalau kita juga memberitahukan pada anak tentang kelebihan-kelebihan pesantren yang kita rekomendasikan. Namun, hasil akhir tetap serahkan pada anak.

Dengan diajak memilih pesantren, berharap anak mampu menjalani studi di pesantren. Anak akan mudah menyatu karena sudah punya feel dengan pesantren pilihannya. Kalau sudah enjoy, bukan ngga mungkin kalau nantinya mereka bakal punya prestasi.

Berlatih Siklus Pesantren 

Di pesantren nantinya bakal banyak kegiatan, setiap hari. Ajak anak untuk berlatih dengan membuat aturan yang ya mirip-mirip dengan pesantren. Misalnya aja, ngga nonton tivi, ngga main gadget, mengaji teratur, shalat tepat waktu, displin, dan terbiasa rapih.

Kalau di rumah saya, ada aturan main gadget dan nonton tivi hanya tiap libur sekolah saja. Alhamdulillah, anak-anak patuh dan ngga protes. Saat ada yang curi-curi kesempatan dan ketahuan, mereka akan buru-buru mematikan tivi atau gagdet dan pasang muka bersalah. Kalau udah begitu, paling saya cuma mengingatkan kembali soal aturan.

Kalau yang sekolahnya pagi, biasanya mereka udah otomatis bangun sendiri yaa. Etapi ada juga deh yang susah banget dibangunin. Ajak anak untuk selalu bangun pagi, mandi, dan shalat shubuh berjamaah di masjid. Kalau masjidnya jauhhh bangett, bisa jamaah dengan keluarga di rumah.

Latih juga anak buat tertib. Artinya, tiap kali ada aturan, berusaha untuk ngga melanggar. Disiplin juga perlu dilatih. Meletakkan tas setelah pulang sekolah, menaruh sepatu ke tempatnya, kaos kaki, seragam, itu juga perlu dilatih. Walau udah berkali-kali diingatkan dan masih aja sembarangan, terus aja diingatakan. Kita memang harus banyak-banyak sabar untuk hal yang satu ini. Salah satu yang bikin saya konser melulu di rumah, ya itu. Udah berkali-kali diingatkan buat jemur handuk setelah dipakai, tapi yaa tetap aja geletak di atas kasurr terus. Sabarrr, sabarr.

Ikhlas ngga ada mata pelajarannya. Ikhlas perlu latihan dan ngga bisa ujuk-ujuk datang dengan sendirinya. Ikhlas itu berat, tapi kalau kita sudah menguasainya, semuanya bakal terasa mudah. Saya pun dari sekarang harus belajar ikhlas. Sekarang sih masih bisa ketemu sama si abang, setiap hari. Masih suka ngomel dan marah pas dia bikin salah. Tapi, kurang dari 2 tahun lagi semuanya bakal berubah. Abang udah ngga ada di rumah. Hiks.. melow lagi deh.

Saya banyak cari penguatan dari orangtua lain yang anaknya udah ada di pesantren. Awalnya memang berat, tapi mau ngga mau kita harus ikhlas. Karena, itu semua buat kebaikan si anak juga. Kalau kitanya berat dan ngga ikhlas, anak pun bakal resah balajar di pesantren. Karena gelombang kita bakal sampai ke anak. Jadi kalau kita ikhlas lillahi taala, anak pun bakal enak  dan betah belajarnya. Dia akan lebih cepat menyerap pelajaran dan beradaptasi.

Jujur, pas nulis bagian ini, saya nulisnya sambil nangis. Saya lagi mencoba menguatkan diri dengan nulis ini. Saya yakin saya bisa melewati masa-masa melow dan pada akhirnya mengikhlaskan anak-anak buat mondok.

Coba deh, simak pesan dari 
KH. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Gontor  (saya kutip dari sini)
"Manja itu yang akan menghambat masa depan anakmu karena nanti mereka gak bisa mandiri, gak paham agama, gak ngerti Quran, gak punya akhlaq, ujung – ujungnya gak bisa jadi jariyahmu kalau kamu mati. Anak mau masuk pondok apalagi menghafal Quran gak usah di tangisi. Itu rezeki, kamu harus bersyukur.
Bayangkan kalau anak – anakmu hidup di luar sekarang, apa iya kamu tega setiap jam 4 maksa mereka untuk tahajud ? apa iya setiap hari kamu ada waktu menyimak setoran hafalan mereka ? coba kamu lihat dirimu sekarang sudah yakin kah kira – kira sholatmu, puasamu, bisa buat kamu masuk surga ? Kalo kamu yakin amalmu bisa menjamin kamu masuk surga yo sak karepmu.
Urusen anakmu dengan budaya bubrah yang sekarang lagi trend di luar sana. Anak – anak  kecil wes podo pinter dolanan hape buka situs apa saja bisa, bangga punya ini itu baju sepatu tas ber merk, lha pas di suruh ngaji blekak blekuk. Di tanya tentang agama prengas prenges…arep dadi opo.. Kamu hanya dititipi mereka, nanti kamu akan di mintai pertanggungjawaban atas mereka. Kiro – kiro kalo anakmu lebih bangga kenal artis artis, lebih bangga dengan benda benda ber merk, lebih seneng menghafal lagu ora genah, gak kenal Gusti Allah, gak kenal kanjeng Nabi, gak bisa baca dan paham Quran gak ngerti budi pekerti.. Lha kamu mati mau jawab apa di hadapan Gusti Allah ? Apa hak mu menghalangi anak-anakmu lebih dekat dengan pemiliknya dengan jalan tholabul ilmi di lingkungan yang mendukung mereka menjadi lebih arif dan berbudi ? Kamu hanya perantara, dipinjami, dititipi, diamanahi…”
Saling menyemangati, saling ikhlas, saling percaya, adalah kunci agar kita kuat melepas anak buat mondok. Percaya aja kalau mereka mampu, mereka kuat, mereka tangguh. Kadang, kita aja yang terlalu lebay dengan menganggap anak kita lemah. Yakin aja kalau mereka mampu melewati masa-masa belajarnya di pesantren.

Kan, bukan berarti kita ngga bisa ketemu sama mereka selamanya. Saat libur sekolah, mereka juga pasti pulang. Atau tiap beberapa bulan sekali, kita bisa datang menegok. Saran saya, jangan tiap bulan dikunjungi. Kenapa? untuk merawat rindu. Agar ketika berjumpa, menjadi perjumpaan yang indah. Tahan rindunya dan yakin kita mampu. Kalau tiba-tiba rindunya ngga bisa ditahan, berdoa aja. Minta Allah sampaikan rindu kita ke anak yang sedang menuntut ilmu yang nun jauh disana.

Selamat mempersiapkan anak-anak menuju jenjang berikutnya ya bu. Kalau ada tips lain, boleh di share loh. Semoga bisa membantu :)

Sumber: http://www.risalahhusna.com/2018/01/tips-agar-anak-mau-masuk-pesantren.html?m=1

Baca Juga Artikel Pendidikan Lainnya:




comments powered by Disqus
Video dan Liputan Kegiatan
Profil Santri Ishlahul Ummah Boarding School
Profil Santri Ishlahul Ummah Boarding School
Dalam video ini, beberapa santri kami menceritakan pengalamannya selama berada di Ishlahul Ummah Boarding School Tasikmalaya
Pernik Artikel
RESENSI BUKU TARBIYATUL AULAD ABDULLAH NASHIH ULWAN Seputar Islam
RESENSI BUKU TARBIYATUL AULAD ABDULLAH NASHIH ULWAN
Kitab “Tarbiyatul Aulad Fil Islam” memiliki karakteristik tersendiri. Keunikan karakteristik itu terletak pada uraiannya yang menggambarkan totalitas dan keutamaan Islam.